Acara Editoral di Metro TV tadi pagi menyoroti soal renovasi ruang kerja anggota DPR yang menghbiskan dana Rp 34 milyar. Saya bayangkan berapa banyak gedung sekolah yang bisa diperbaiki dengan dana sebesar itu. Sayangnya, seperti biasa, anggota DPR lebih mementingkan kementerengan. Ya, ini bukan soal kenyamanan. Saya pernah berkunjung ke ruangan salah satu anggota DPR. Ruangannya sangat nyaman dan representatif untuk bekerja. Renovasi, sekali lagi, hanya untuk kepentingan pemuasan nafsu anggota dewan belaka.
Lucunya, setelah masalah ini jadi sorotan beberapa anggota cari muka dengan menolak renovasi ruangan mereka. Salah satu yang terlihat menolak adalah Ferry Mursyidan Baldan. Seperti diulas di Metro TV, ini cuma cara murahan untuk cari muka. Mereka, para anggota dewan itu sudah mafhum benar bahwa renovasi itu adalah kegiatan proyek. Kalau anggarannya sudah turun, tidak ada lagi langkah mundur. Terlebih ketika proyek sudah mulai berjalan. Jadi, menolak atau tidak, tidak mengubah apa-apa. Uang rakyat Rp 34 milyar sudah terlanjur dihamburkan.
Kalau mereka memang serius menolak, seharusnya penolakan itu dilakukan pada saat pembahasan anggaran. Bukan pada saat tukang sudah mulai bekerja.
Cara-cara cari muka murahan ini lebih menyakitkan lagi. Mungkin mereka, para pencari muka itu, mengira rakyat masih bisa dibodohi dengan cara-cara murahan itu. Padahal, hal-hal seperti itu bagi rakyat sudah seperti pertunjukan komedi sirkus. Dan pahlawan kesiangan itu tak lebih dari seekor badut.